10 Alasan Logis Kenapa Generasi Milenials Malas Kerja di Kantor

Image: SpaceStock Team
0 121

Generasi millenial kerap dianggap sebagai generasi pemalas. Sebenarnya anggapan tersebut tidak benar. Mereka hanya memiliki revolusi berpikir dengan tidak lagi turut dalam aturan terdahulu ketika bekerja. Generasi emas ini memang tak jarang menantang aturan tradisional di dunia kerja. Mulai dari jam kerja, seragam, hingga aturan lainnya.

Aturan-aturan bekerja yang terlalu baku dianggapnya sudah kuno dan tidak sesuai lagi dengan karakter generasi Y ini. Alhasil mereka cenderung malas bekerja di kantor dan lebih menginginkan kemerdekaan dalam hal meniti karir. Misalnya dengan terjun ke dunia wirausaha, bergelut di bidang kreatif, menjadi influencer atau content maker, dan berbagai pekerjaan yang memiliki aturan lebih fleksibel.

Alasan Milenials Malas Kerja di Kantor

Generasi Milenial
Image: Unsplash

Jadi sebelum men-judge bahwa para milenials adalah generasi pemalas, kita harus tahu dulu apa saja alasan logis yang mereka pikirkan. Berikut beberapa alasan logis mengapa generasi milenials malas kerja di kantor.

1. Lebih fokus pada passion

Bagi milenials, melakukan hal yang dicintai lebih penting dibandingkan bekerja di luar minat mereka. Rata-rata mereka lebih fokus mengejar passion. Hal yang dipikirkannya bukan lagi tentang seberapa besar bayaran yang akan didapatkan. Selain itu, belum memiliki tanggungan besar juga membuat mereka semakin gencar mengejar passion alih-alih duduk di meja kantor.

2. Bekerja secara tradisional tak lagi dianggap menarik

Jiwa muda yang dimiliki mereka memengaruhi bagaimana pola pikirnya. Bekerja dengan aturan kantor yang ketat dan kaku sudah dianggap tidak menarik lagi. Kebanyakan mereka menganggap bahwa aturan-aturan tersebut akan menyita banyak waktu. Maka tak heran jika saat ini banyak millenials yang lebih tertarik berwirausaha atau menjadi freelancer.

3. Menginginkan sesuatu yang nyaman dan menghasilkan uang

Uang bukanlah hal utama yang dikejar para generasi muda sekarang, terutama bagi kalangan fresh graduate. Mereka lebih mencari pekerjaan yang membuatnya nyaman. Tidak terikat secara paten dengan waktu, peraturan tradisional, hingga aturan-aturan menjemukan lainnya adalah hal yang dicari kaum muda ini. Jiwa muda dan pikirannya yang masih belum terlalu matang juga berpengaruh dalam pengambilan keputusan. Termasuk untuk urusan mencari pekerjaan.

Baca Juga: Startup Guide: Tips Virtual Office untuk Budget Pemula

4. Fokus pada keseimbangan hidup

Belajar dari generasi sebelumnya, kaum milenials semakin matang dalam memikirkan keseimbangan hidup. Mereka lebih menitikberatkan pada keseimbangan antara bekerja dan hidup. Mereka sadar bahwa jalan hidupnya masih panjang sehingga ingin memanfaatkannya secara baik. Melalui pola pikir inilah mereka tidak begitu tertarik bekerja di kantor dengan peraturan ketat.

5. Ingin mencari pengalaman

Jam kerja kebanyakan kantor saat ini begitu lama menurut milenials. Bagi mereka, jam kerja tersebut dianggap akan menuntut hampir semua waktunya. Hal ini akan membuatnya tidak bisa melakukan hal yang diinginkan. Pengalaman lebih dicari kaum muda ini dibandingkan uang. Mereka menganggap usia muda dan jalan hidup yang masih panjang adalah waktu yang tepat untuk mendulang pengalaman sebanyak mungkin.

Baru setelah mendapatkan banyak pengalaman, millenials akan memutuskan jalan yang tepat dalam memapankan karirnya.

6. Terbiasa fleksibel

Usia yang masih muda membuat pola pikir generasi Y ini lebih fleksibel. Karena belum banyak pengalaman, mereka lebih suka mencari tahu dan mencoba banyak hal. Aturan kantor yang dianggapnya terlalu baku membuat mereka cenderung malas bergabung di sana. Kaum millenials lebih menyukai tantangan daripada harus terikat dengan aturan yang dianggapnya mengekang.

Milenial Kerja di Luar Kantor
Image: digitalistmag.com

7. Menginginkan waktu luang yang cukup

Waktu luang bagi generasi Y ini sangatlah berharga. Sebab mereka bisa menggunakannya untuk mengolah bakat, mencari pengalaman lain, berlibur, atau melakukan hal-hal selain bekerja. Menurut sebagian besar mereka, waktu luang yang didambakannya akan sulit didapatkan di kantor.

Meskipun bekerja di kantor pun, generasi satu ini lebih senang bergabung dengan perusahaan yang aturannya juga fleksibel.

8. Ingin transparansi

Rasa ingin tahu millenials sangat besar. Mereka berpikir bahwa setiap perintah atau pekerjaan pasti memiliki alasan dibaliknya. Kaum muda ini tidak ingin hanya menjadi pesuruh saja. Mereka pun ingin tahu alasan-alasan apa yang membuatnya harus melakukan pekerjaan tersebut.

Transparansi yang mereka dambakan tidak bisa selalu didapatkan di kantor. Begitulah apa yang mereka anggap. Tak heran jika melalui pola pikir tersebut, kaum millenials lebih senang menjadi wirausahawan, influencer, atau pekerjaan lain yang tidak terikat aturan baku.

9. Lebih suka bekerja dengan efisien

Generasi milenial sebenarnya bukanlah tipe pemalas. Mereka hanya ingin bekerja tanpa terikat aturan yang kaku. Bahkan mereka tidak ingin mengerjakan sesuatu yang diberi aturan. Generasi Y ini lebih senang mengerjakan sesuatu dengan cara lebih efisien, yakni mengerjakan dengan waktu minimal namun hasilnya maksimal.

Tak heran dengan pola pikir demikian, aturan kantor yang kaku tidak membuat mereka tertarik untuk bergabung.

10. Menyukai manfaat yang tak terlihat

Manfaat yang tak terlihat seperti waktu istirahat lebih dicari generasi muda ini. Teknologi yang semakin berkembang juga memengaruhi pola pikir para millenials. Alhasil mereka lebih senang bekerja dengan mengandalkan teknologi serta internet. Melalui internet, mereka akan mencari apa saja manfaat yang tak terlihat dari perusahaan tempatnya melamar. Mulai dari budaya kerja, mantan pekerja, hingga sistem birokrasinya.

Jika dianggapnya tak sesuai ekspektasi, maka ia akan terus mencari sampai menemukan perusahaan yang dianggapnya tepat untuknya. Namun kebanyakan kaum millenials ini akan lebih memilih mandiri dalam berkarir dibandingkan harus turut dalam aturan baku perusahaan.

Itulah beberapa alasan logis mengapa para milenials malas kerja di kantor. Apapun itu keputusan karirnya, asalkan mampu mengembangkan diri menjadi lebih baik maka tidak ada salahnya dicoba.

Leave A Reply

Your email address will not be published.